Sabtu, 29 September 2012

Membela Nabi di Dunia Nyata


Membela Nabi di Dunia Nyata
Ahmad Sahidah ;  Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
REPUBLIKA, 28 September 2012



Film the Innocence of Muslims memantik kekerasan di Benghazi, Libya. Christopher Stevens, duta besar Amerika Serikat, meninggal akibat demonstrasi anarkis. Mengapa sebagian Muslim tidak bisa menahan amarah dengan pandangan orang luar terhadap Nabi Muhammad? Padahal, Nabi sendiri sering kali berpaling dari cercaan seraya berhujah bahwa mereka yang menghina dirinya hakikatnya tidak mengetahui hakikat kebenaran. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menengok kembali sejarah kenabian.

Pesona Sang Rasul, yang terbaca jelas dalam banyak kepustakaan, seharusnya memancarkan pencerahan bagi penganutnya. Sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin, membaca Sirah Rasul Ibn Ishaq dan Hayatu Muhammad Haikal adalah cara paling mudah untuk mengingatkan kembali daya tarik Nabi. Pada masa yang sama, ingatan tersebut bisa mendorong kita untuk memeriksa kembali kebiasaan yang telah berlangsung selama ini. Kadang sudut pandang orang luar perlu dibaca juga.

Terkadang, Nabi juga bisa hadir dalam lagu “Rindu Rasul“ ketika kita mendengarkan lagu ciptaan Taufiq Ismail ini dinyanyikan oleh Bimbo. Lagu yang membuat Iin Parlina selalu memalingkan wajah ke belakang ketika bernyanyi karena tak kuasa menahan kerinduan. Mungkin, tradisi memuji Rasul ini membuat sebagian Muslim tak menyukainya, tetapi tradisi menyanjung pujaan melalui Burdah, Barzanji, Dibaan untuk sebagian lain mendatangkan ketenteraman dan kedekatan emosional.

Keseharian Rasul
Seperti dalam kesaksian Aisyah, putri Nabi, sang Ayah selalu membantu pekerjaan rumah tangga dan acap kali menambal bajunya, memperbaiki sepatu, dan menyapu lantai. Tak hanya itu, Nabi juga memberi minum dan makan binatang ternak peliharaannya. Uniknya lagi, kakek Hasan-Husein ini tak kikuk berbelanja ke pasar. Kisah ini tentu merupakan sebuah sisi lain dari teladan Nabi, yaitu perubahan masyarakat itu bermula dari rumah tangga. Sebagai pemimpin, beliau tidak ragu untuk mengerjakan pekerjaan kasar. Perilaku ini juga menunjukkan antitesis terhadap kebudayaan patriarkal yang cenderung menampik pekerjaan domestik untuk kaum lelaki.

Dalam karya Athar Husain, The Message of Muhammad (1983), rutinitas Nabi diterakan dengan tiga kegiatan, yaitu ibadah, urusan masyarakat, dan urusan pribadi. Setelah shalat Subuh, beliau duduk di masjid untuk berzikir hingga matahari terbit dan banyak orang berkumpul untuk mengikuti pengajian.

Setelah majelis taklim, Nabi bercakap-cakap dengan riang bersama jamaah, bertanya tentang kesejahteraan dan bahkan bertukar lelucon dengan mereka. Usai pertemuan itu, Nabi pulang ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rutin rumah tangga. Pada waktu siang, Rasul kembali ke masjid untuk shalat Zhuhur dan Ashar, lalu dilanjutkan dengan mendengarkan masalah umat dan menghiburnya, tentu juga memberikan ceramah tentang pedoman hidup.

Menjelang senja, Nabi pulang ke rumah dan setelah shalat Isya mereka berkumpul di satu tempat untuk makan malam. Sebelum berangkat tidur, Nabi membaca Alquran dan berdoa. Kebiasaan yang selalu dilakukan sebelum shalat adalah membersihkan gigi. Di tengah malam, beliau selalu shalat tahajud, kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan sepanjang hidupnya. Rasa-rasanya, tak ada yang terlalu berat untuk ditiru oleh kita sekarang.

Meraup Pesan
Ternyata, menjadi Muslim itu sesederhana Nabi menjalani keseharian dengan riang. Meski memangku amanah sebagai pemimpin, anak Abdullah tersebut tidak memanjakan gaya hidup mewah, sesuatu yang sebenarnya bisa diraihnya dengan mudah.

Sebagai manusia biasa, Muhammad juga berusaha untuk melawan ke cenderungan menuruti nafsu hedonis. Seperti diceritakan dalam Hadis Bukhari, Nabi hanya mempunyai sedikit baju, tetapi senantiasa dijaga kebersihannya. Bahkan pada akhir masa hidupnya, Nabi tidak meninggalkah uang, hanya sebidang tanah yang itu pun didermakan untuk kepentingan umum.

Sayangnya, teladan ini tak membekas dengan kuat. Umat lebih banyak menonjolkan ritual dan simbol keagamaan yang dangkal. Betapa pun ibadah itu wujud dari ekspresi ketaatan, kita alpa bahwa Nabi memandang penting kepentingan bersama yang lebih luas. Umat enggan untuk membangun fasilitas publik sebagai bagian dari perilaku Nabi yang terpuji. Kegagalan umat melihat hal ini menyebabkan fungsi agama hanya terhenti di tempat ibadah, bukan di ruang publik.

Dengan demikian, kesungguhan menjalankan keseharian kita dan menyisakan waktu untuk beribadah adalah lebih dari cukup untuk meneladani Rasul. Tentu, tak perlu mengaku sebagai Nabi agar keberadaan kita betul-betul mencerminkan kesalehan sejati.

Hanya, untuk menunjukkan pembelaan terhadap kesucian Nabi, kita sendiri sebagai Muslim acap kali menimbulkan kegaduhan, bahkan melakukan kekerasan pada orang lain. Padahal, bahkan kepada musuh-musuhnya, Nabi tak mencerca dan mengutuk dengan garang. Justru, yang perlu mendapatkan perhatian bahwa Muhammad senantiasa menanyakan kesejahteraan umat di ujung ceramah pengajiannya. ● 
◄ Newer Post Older Post ►