Senin, 18 Maret 2013

Cara Belajar Hadits dengan Benar?

Bagaimana Belajar Hadits dengan Benar?

Hadits adalah berita dari atau tentang Nabi Muhammad SAW (selanjutnya ditulis ‘saw’), mencakup perkataan, perbuatan dan persetujuannya. Di dunia ini, tidak ada seorang tokoh pun; apakah itu kepala negara, politisi, ilmuwan bahkan artis sekalipun, yang berita tentang dirinya sangat diperhatikan sebesar perhatian umat Islam terhadap berita Nabinya, Muhammad saw. Apalagi sampai dikembangkan satu ilmu khusus untuk menyeleksi kebenaran “perkataan, perbuatan dan persetujuan” dari tokoh-tokoh tersebut seperti yang telah diberlakukan kepada Nabi Muhammad saw melalui ilmu-ilmu hadits (‘ulumul-hadits). Semua itu disebabkan Nabi Muhammad saw bukanlah sesosok “Muhammad”-nya semata, melainkan Nabi Muhammad saw adalah sesosok Nabi dan Rasul, penyampai wahyu dan ajaran-ajaran dari Allah swt.
Belajar Islam, dengan sendirinya tidak cukup hanya dengan mencurahkan perhatian kepada Allah swt dengan al-Qur`annya semata. Sebab wahyu Allah swt dengan al-Qur`annya disampaikan, dijelaskan maksudnya, dan dicontohkan pengamalannya oleh Nabi Muhammad saw. al-Qur`an sendiri setidaknya menyebutkan beberapa kewenangan Nabi Muhammad saw terkait agama Islam yang dibawanya, yaitu:
Pertama, penjelas al-Qur`an. Nabi Muhammad saw mempunyai kewenangan sebagai penjelas al-Qur`an. Maka dari itu, semua penjelasan Nabi saw terkait al-Qur`an wajib dijadikan rujukan, sebab itulah pemahaman yang benar terkait ayat al-Qur`an yang dimaksud.
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (QS. An-Nahl [16] : 44).
Kedua, pembuat hukum. Apa yang Nabi saw sampaikan terkait suatu hukum, meskipun itu hukum yang tidak ada dalam al-Qur`an,  maka tetap sah berlaku sebagai hukum Islam yang harus ditaati.
Dan ia (Muhammad) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (QS. Al-A’raf [7] : 157)
Ketiga, model perilaku ideal (uswah hasanah). Konsekuensinya, semua perilaku dan perbuatan Nabi saw mesti dicontoh sebab tidak ada perilaku dan perbuatan lain yang lebih baik daripada perilaku dan perbuatan yang dicontohkan Nabi saw.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab [33] : 21).
Keempat, yang mesti ditaati secara total. Apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Nabi saw, semua umatnya wajib taat tanpa terkecuali.
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah (QS. An-Nisa` [4] : 64).
Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali ‘Imran [3] : 32).
Keempat otoritas Nabi saw di atas dengan sendirinya menjadikan belajar terhadap hadits menjadi sesuatu yang wajib dan harus benar pula. Sebab hari ini, meskipun sudah cukup banyak orang yang sadar untuk belajar hadits, tetapi tidak sedikit dari mereka yang menempuh metode yang salah, sehingga akhirnya mereka tersesat di dalam memahami hadits. Pada akhirnya mereka tidak mampu menangkap dengan benar bagaimana penjelasan Nabi saw yang benar terkait al-Qur`an; tidak mampu memahami dengan benar hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh Nabi saw; tidak mampu menjadikan Nabi saw sebagai uswah hasanah yang sebenarnya; dan tidak bisa taat dengan benar terhadap semua perintah dan larangan Nabi saw.
Pengertian Hadits dan Sunnah
Ada dua istilah yang ditujukan pada berita yang bersumber dari Nabi saw; hadits dan sunnah. Secara bahasa hadits bermakna “pembicaraan, kisah, atau sesuatu yang baru”, sedangkan sunnah artinya “jalan, cara, aturan, model atau pola bertindak” (Lisanul-‘Arab).
Berdasarkan penelusuran secara semantis pada penggunaan kedua lafazh tersebut dalam al-Qur`an dan hadits, ditemukan bahwa makna hadits adalah “pembicaraan/komunikasi yang bersifat religius, pembicaraan/komunikasi manusia biasa, dan kisah yang bernilai historis”. Berikut contoh-contoh penggunaan lafazh hadits dalam al-Qur`an dan hadits:
Pertama, hadits yang bermakna “pembicaraan/komunikasi yang bersifat religius”.
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang… (QS. Az-Zumar [39] : 23)

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ

Sesungguhnya sebaik-baik hadits (perkataan) adalah kitab Allah (Shahih Muslim kitab al-jum’ah bab takhfifis-shalat wal-khutbah no. 2042)

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يَبْلُغَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَحْفَظُ لَهُ مِنْ سَامِعٍ

Allah mengampuni orang yang mendengar satu hadits (berita) dari kami lalu ia menghafalnya sampai ia menyampaikannya. Besar kemungkinan orang yang diberi informasi hadits tersebut (dari orang ke-2) lebih bisa menjaganya daripada orang yang mendengarnya langsung dari Nabi saw (Musnad Ahmad hadits ‘Abdullah ibn Mas’ud no. 4157)
Kedua, hadits yang bermakna “pembicaraan/komunikasi manusia biasa”.
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain (QS. Al-An’am [6] : 68).

Siapa yang memperhatikan pembicaraan satu kaum, sedangkan mereka tidak menyukainya atau enggan terhadapnya, maka akan dicucurkan pada telinganya cairan timah pada hari kiamat (Shahih al-Bukhari kitab at-ta’bir bab man kadzaba fi hulumihi no. 7042)
Ketiga, hadits yang bermakna “kisah yang bernilai historis”.
Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa (QS. An-Nazi’at [79] : 15).
Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, beritakanlah/kisahkanlah dari Bani Isra`il, tidak apa-apa, dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka tempatilah tempatnya di neraka (Shahih al-Bukhari kitab ahadits al-anbiya` bab ma dzukira min bani Isra`il no. 3461).
Pada masa awal-awal Islam, kisah dan pembicaraan Nabi saw (hadits) mendominasi seluruh pembicaraan masyarakat Islam saat itu. Maka dari itu, kata ini pun mulai digunakan hampir secara khusus untuk riwayat tentang Nabi saw. Dari sinilah maka istilah hadits kemudian digunakan secara khusus untuk “perkataan, perbuatan, atau persetujuan Nabi saw” (M.M. Azhami, Studies in Hadith Methodology and Literature, terj. Memahami Ilmu Hadits, hlm. 24).
Sementara sunnah, jika ditelusuri secara semantis terhadap penggunaannya di dalam al-Qur`an, ditemukan setidaknya tiga makna, yaitu:
Pertama, aturan.
Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku (QS. Al-Ahzab [33] : 38).
Sunnah dalam ayat ini bermakna aturan, tepatnya aturan Allah swt yang tidak mungkin berubah.
Kedua, model kehidupan.
Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan salihin) dan (hendak) menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa` [4] : 26).
Ketiga, garis perilaku yang baku.
Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir), mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) dan sesungguhnya telah berlalu sunnah (garis perilaku yang baku) orang-orang dahulu (QS. Al-Hijr [15] : 12-13).
Dalam hadits, kata sunnah tidak jauh berbeda dengan al-Qur`an dimana maknanya berkisar pada “aturan, model kehidupan, garis perilaku yang baku”. Berikut disajikan contohnya:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelummu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga walau mereka masuk lubang biawak sekalipun kamu akan mengikutinya juga.” Kemudian Rasulullah saw ditanya: “Apakah mereka yang dimaksud itu Yahudi dan Nashrani?” Jawab Rasul: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Shahih al-Bukhari kitab ahadits al-anbiya bab ma dzukira ‘an bani Isra`il no. 3456 dan kitab al-I’tisham bil-kitab bab qaulin-Nabiyy latattabi’unna sunana man kana qablakum no. 7320; Shahih Muslim kitab al-qadr bab ittiba’ sunan al-yahud wan-nashara no. 6952)

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Kalian mesti mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan hidayah dan petunjuk, peganglah ia dengan teguh dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah olehmu perkara yang dibuat-buat, karena setiap yang dibuat-buat itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat (Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fi luzum as-sunnah no. 4609).
Sebagaimana halnya hadits yang semula bermakna “pembicaraan umum”, tetapi kemudian karena dari sejak awal Islam yang mendominasi pembicaraan adalah “pembicaraan tentang Nabi saw” sehingga kemudian mengerucutlah hadits sebagai “pembicaraan tentang Nabi saw”, maka demikian halnya juga dengan sunnah. Pada masa awal Islam ketika berbicara model kehidupan (sunnah) maka yang mendominasi adalah “model kehidupan Nabi saw”, sehingga menyebarlah penggunaan istilah “sunnah” sebagai tertuju khusus pada “sunnah Nabi saw”. Pada akhir abad ke-2 H, di masa penulisan kitab-kitab hadits/sunnah, kata as-sunnah dalam berbagai kitab fiqh dan hadits sudah ditujukan secara khusus kepada sunnah Nabi saw (M.M. Azhami, Studies in Hadith Methodology and Literature, terj. Memahami Ilmu Hadits, hlm. 26).
Dari uraian di atas diketahui bahwa hadits dan sunnah, keduanya merupakan istilah yang dipergunakan sama untuk berita dari atau tentang Nabi Muhammad saw. Masing-masingnya merujuk pada “pembicaraan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad saw”. Meski kemudian terdapat perbedaan sedikit antara pengertian hadits/sunnah versi ulama hadits dan ulama ushul fiqih.
Menurut ulama hadits, hadits/sunnah adalah berita yang berasal dari atau tentang Nabi saw, baik itu berupa perkataannya, perbuatan, persetujuan, atau sifat akhlaq dan fisiknya. Dalam hal ini, maka sifat-sifat Nabi saw seperti bagaimana cara Nabi saw berpakaian, makan, minum, sampai hal yang detailnya sekalipun, dikategorikan sunnah yang harus dijadikan uswah oleh semua umat Islam. Contoh, Nabi saw kata istrinya sangat menyukai pakaian gamis yang berwarna putih. Maka dalam perspektif ulama hadits, ini juga sunnah yang sebaiknya dijadikan uswah.
Sementara menurut ulama ushul fiqih, hadits/sunnah adalah berita yang berasal dari atau tentang Nabi saw yang ada implikasi hukumnya. Menurut mereka, sifat Nabi saw baik yang berupa fisik atau kebiasaan manusiawinya tidak memiliki implikasi hukum sehingga tidak mesti diikuti. Hal-hal yang masuk kategori jibillah (budaya) dan gharizah (insting kemanusiaan), bukan termasuk sunnah yang harus diikuti. Oleh karena itu, para ulama ushul fiqh cukup membatasi hadits pada pengertian “perbuatan, perkataan, dan persetujuan” Nabi saw yang ada implikasi hukumnya untuk umatnya (M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushulul-Hadits, hlm. 18-19).

Belajar Hadits dengan Benar
Dalam upaya memahami hadits, perlu menempuh metode yang benar agar tidak tersesat dari jalan yang lurus; jalan yang telah digariskan oleh Nabi saw dan kemudian diikuti oleh para shahabat, tabi’in, dan para ulama pelanjutnya yang kemudian dikenal dengan ahlus-sunnah. Untuk itu, penting diketahui beberapa rambu-rambu yang harus dipatuhi agar tidak tersesat dalam belajar hadits, yaitu:
Pertama, hanya mengamalkan hadits shahih dan hasan, dan sama sekali tidak mengamalkan hadits dla’if. Ini sesuai dengan arahan dari Nabi saw sendiri:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa yang berkata atas namaku apa yang tidak aku katakan, maka tempatilah tempatnya di neraka (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab itsmi man kadzdzaba ‘alan-Nabi saw, no. 109).
Artinya, hadits dla’if bukan semata persoalan “hadits dla’if juga hadits”. Akan tetapi ketika kita menyatakan sesuatu sebagai sabda Nabi saw, padahal Nabi saw sendiri tidak pernah mengatakannya, maka hukumannya adalah neraka. Hadits dla’if jelas merupakan hadits yang tidak pernah dikatakan oleh Nabi saw. Oleh karena itu kalau kita meyakininya sebagai hadits, maka hukumannya adalah neraka. Maka dari itulah, para ulama dari sejak generasi pertama sampai sekarang betul-betul sangat peduli dengan keshahihan sebuah hadits, sampai mengembangkan satu disiplin ilmu khusus (ilmu hadits) guna membedakan mana yang benar-benar sebagai sabda Nabi saw (shahih/hasan) dan mana yang sebenarnya bukan sabda Nabi saw (dla’if).
Meskipun kemudian ada sekelompok ulama yang membolehkan mengamalkan hadits dla’if dalam konteks amal-amal yang utama (fadla`ilul-a’mal) ataupun do’a, tetap saja tidak boleh diyakini bahwa hadits tersebut sebagai sabda Nabi saw. Cukup dipahami sebagai keterangan penunjang semata. Sebab jika dipahami sebagai sabda Nabi saw, maka hukumannya adalah neraka.
Kedua, menggunakan ilmu hadits untuk menyeleksi hadits yang benar. Dalam hal ini sering timbul pertanyaan: Siapa yang berwenang menentukan hadits ini shahih, hasan atau dla’if? Pasalnya sering ditemukan satu hadits yang dinilai dla’if oleh satu pihak, ternyata dinilai shahih oleh pihak lainnya. Maka jawabannya adalah: Ilmu hadits. Yang berwenang menentukan sebuah hadits shahih, hasan atau dla’if adalah ilmu hadits itu sendiri. Ilmu hadits hampir tidak mengenal madzhab. Apapun madzhabnya; Hanafi, Maliki, Hanbali, atau Syafi’i, ilmu haditsnya sama. Ketika ternyata ada hadits yang dinilai shahih oleh satu pihak dan dinilai dla’if oleh pihak lain, maka ilmu hadits juga sudah mempunyai mekanismenya untuk menentukan mana penilaian yang dapat diambil.
Wajib untuk diketahui bahwa ilmu hadits ini bukan ilmu yang dibuat oleh para ulama beberapa abad sepeninggal Nabi saw. Sehingga kemudian dipahami bahwa ilmu hadits tidak bisa menentukan mana hadits yang benar dan palsu sebab sudah terpisah jarak waktu yang lama antara hadits Nabi saw dan ilmu yang dikembangkannya. Dengan kata lain, mana mungkin ulama yang hidup di abad yang berbeda dengan Nabi saw bisa menyeleksi hadits Nabi saw? Kebingungan ini terjawab dengan pengetahuan bahwa ilmu hadits sudah dikembangkan dari sejak zaman Nabi saw sendiri, dan terus ditradisikan oleh generasi sesudahnya.
Ilmu hadits adalah ilmu yang bertumpu pada kritik rawi (periwayat hadits). al-Qur`an dalam hal ini sudah memberikan pedomannya dalam QS. Al-Hujurat [49] : 6, dimana Nabi saw dituntut untuk meneliti terlebih dahulu kredibilitas dari setiap orang yang menyampaikan berita. Demikian halnya QS. An-Nisa` [4] : 83 yang mengajarkan umat Islam untuk senantiasa mencarikan saksi yang kredibel atas setiap berita yang diterima, sekaligus memohon kepastian kebenarannya dari orang yang kredibel.
‘Umar ibn al-Khaththab pernah mempertanyakan Abu Musa atas hadits isti`dzan (izin bertamu) lebih dari tiga kali agar ia membawa saksi lain yang menerimanya langsung dari Rasul saw. Sebagaimana diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنْتُ فِي مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ الْأَنْصَارِ إِذْ جَاءَ أَبُو مُوسَى كَأَنَّهُ مَذْعُورٌ فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ عَلَى عُمَرَ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ قُلْتُ اسْتَأْذَنْتُ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ فَقَالَ وَاللَّهِ لَتُقِيمَنَّ عَلَيْهِ بِبَيِّنَةٍ أَمِنْكُمْ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنْ النَّبِيِّ r فَقَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَاللَّهِ لَا يَقُومُ مَعَكَ إِلَّا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَكُنْتُ أَصْغَرَ الْقَوْمِ فَقُمْتُ مَعَهُ فَأَخْبَرْتُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ ذَلِكَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; saya pernah berada di majlis dari majlisnya orang-orang Anshar, tiba-tiba Abu Musa datang dalam keadaan kalut, lalu dia berkata: “Aku (tadi) meminta izin kepada Umar hingga tiga kali, namun ia tidak memberiku izin, maka aku hendak kembali pulang, lalu Umar bertanya; “Apa yang membuatmu hendak kembali pulang?” jawabku; “Aku (tadi) meminta izin hingga tiga kali, namun aku tidak diberi izin, maka aku hendak kembali pulang, karena Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian meminta izin, namun tidak diberi izin, hendaknya ia kembali pulang.” Maka Umar pun berkata: “Demi Allah, sungguh kamu harus memberiku satu bukti yang jelas,” (kata Abu Musa) “Apakah di antara kalian ada yang pernah mendengarnya dari Nabi saw?” Lalu Ubay bin Ka’ab angkat bicara; “Demi Allah, tidaklah ada orang yang akan bersamamu melainkan orang yang paling muda di antara mereka, sedangkan akulah orang yang paling muda.” Lalu aku pergi bersamanya menemui Umar, dan aku pun memberitahukan kepada Umar bahwa Nabi saw berkata seperti itu.” (Shahih al-Bukhari kitab al-isti`dzan bab at-taslim wal-isti`dzan tsalatsan no. 6245).
‘Umar, sesudah mendapatkan saksi yang kredibel atas berita dari Abu Musa tersebut, kemudian berkata kepada Abu Musa:

أَمَا إِنِّي لَمْ أَتَّهِمْكَ وَلَكِنْ خَشِيتُ أَنْ يَتَقَوَّلَ النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ r

“Sungguh aku tidak meragukanmu, hanya aku takut ada orang-orang yang membuat-buat sabda Rasulullah saw.” (Muwaththa` Malik kitab al-jami’ no. 1520)
Penyeleksian “berita” serupa pernah dilakukan juga oleh ‘Uqbah ibn al-Harits. Sebagaimana diceritakan oleh ‘Abdullah ibn Abi Mulaikah:

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لِأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلَا أَخْبَرْتِنِي فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ r بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ

Dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dari ‘Uqbah bin Al Harits; bahwasanya dia menikahi seorang perempuan putri Ibnu Ihab bin ‘Aziz. Lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: “Aku pernah menyusui ‘Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu”. Maka ‘Uqbah berkata kepada perempuan itu: “Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku.” Maka ‘Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasul saw di Madinah dan menyampaikan masalahnya. Maka Rasul saw bersabda: “Harus bagaimana lagi, sudah seperti itu ditetapkan”. Maka ‘Uqbah menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lain (Shahih al-Bukhari kitab al-’ilm bab ar-rihlah fil-mas`alah an-nazilah no. 88).
Di zaman tabi’in, penyeleksian terhadap hadits dilakukan melalui sistem isnad; meneliti orang per orang periwayat hadits, serta ketersambungan pengajaran hadits di antara mereka. Ibn Sirin dalam hal ini pernah menuturkan: “Pada awalnya para ulama tidak bertanya tentang isnad. Tetapi setelah terjadi fitnah (perang di antara sesama muslim) mereka berkata: Sebutkan kepada kami nama rijal-rijal (periwayat) kalian. Lalu diperiksa, jika dari ahli sunnah maka haditsnya diambil, dan jika dari ahli bid’ah maka haditsnya tidak diambil.” (Shahih Muslim kitab al-muqaddimah bab fi annal-isnad minad-din, no. 27).
Menurut al-A’zhami, sistem isnad sebenarnya sudah biasa dipakai dari sejak awal, tepatnya untuk meneliti sya’ir-sya’ir Arab. Akan tetapi, pernyataan Ibn Sirin di atas menginformasikan bahwa ketika terjadi fitnah, maka sistem isnad tersebut lebih diperketat lagi (Studies in Early Hadith Literature, terj. Ali Mustafa Yaqub, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm. 583).
Dalam hal inilah maka Ibn Sirin menyatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Sesungguhnya ilmu ini (hadits) agama. Maka telitilah dari siapa kamu mengambil agamamu (Shahih Muslim kitab al-muqaddimah bab fi annal-isnad minad-din, no. 26).
Dalam versi lain Ibnul-Mubarak mengatakan:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Isnad itu termasuk agama, karena kalau tidak ada isnad pastilah orang-orang akan berkata seenaknya saja (Shahih Muslim kitab al-muqaddimah bab fi annal-isnad minad-din, no. 32).
‘Abdurrahman ibn Mahdi pernah berkata: Aku bertanya kepada Syu’bah, Ibn al-Mubarak, ats-Tsauri, dan Malik ibn Anas tentang seseorang yang terindikasi kuat telah berdusta, maka mereka menjawab: “Sebarkanlah, karena sesungguhnya ini adalah agama.”
Ibnul-Mubarak pernah berkata: “al-Mu’alla ibn Hilal itu suka berdusta dalam hal hadits.” Lalu seorang sufi berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, anda telah ghibah?” Ia menjawab: “Diam engkau. Jika kami tidak menjelaskan, bagaimana yang haq bisa diketahui dari yang bathil?”
‘Abdullah putra Ahmad ibn Hanbal pernah menceritakan: Abu Turab an-Nakhsyabi pernah datang kepada ayahku, lalu terdengar ayahku berkata: “Orang itu dla’if. Orang ini tsiqat.” Abu Turab lalu berkata: “Wahai syaikh, anda jangan mengghibah ‘ulama!” Maka ayahku menoleh kepadanya dan berkata: “Celaka engkau, ini nashihat, bukan ghibah!” (M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushulul-Hadits, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, hlm. 263-264).
Jelasnya, kritik rawi lewat sistem isnad ini kaitannya dengan urusan agama, bukan dengan urusan perseorangan yang cukup diserahkan kepada Allah swt.
Dalam kajiannya terkait sistem isnad, al-A’zhami memberikan beberapa kesimpulan, di antaranya:
(8) Tidak ada alasan yang dapat diterima untuk menolak sanad. Justru penelitian menegaskan bahwa metode sanad itu mengandung unsur-unsur keaslian dan keotentikan (otentisitas), di mana secara umum sanad harus diterima. (9) Ahli-ahli hadits telah melakukan upaya maksimal untuk mengoreksi dan mengritik matan dan sanad hadits. Mereka melakukannya dengan penuh keberanian dan keikhlasan. (10) Kitab-kitab hadits sampai sekarang ini juga selalu siap untuk diperiksa, diteliti dan dikoreksi, sepanjang hal itu memenuhi kriteria-kriteria ilmiah dan objektifitas, bukan atas dasar ketidaktahuan dan kebencian (Studies in Early Hadith Literature, terj. Ali Mustafa Yaqub, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm. 583).
Dalam hal ini, perlu ditekankan juga bahwa hadits bukan baru ditulis dua abad sepeninggal Nabi saw, sebagaimana umum dipahami oleh orang-orang yang awam tentang hadits. Akibatnya, mereka menyangsikan keshahihan hadits dan ilmu hadits sebab proses penulisan dan penyeleksiannya berjarak jauh dengan masa hadits itu sendiri (kehidupan Nabi saw). Yang benar, hadits sudah ditulis sejak zaman Nabi saw, meski Nabi saw menginstruksikan dengan tegas agar tulisannya tidak disatukan atau dicampurkan dengan tulisan al-Qur`an. Abu Hurairah pernah menyatakan:

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ r أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلَا أَكْتُبُ

Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi saw yang lebih banyak haditsnya dibandingkan aku, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr. Sebab ia menulis sedang saya tidak (Shahih al-Bukhari kitab al-’ilm bab kitabatil-’ilm no. 113).
‘Abdullah ibn ‘Amr sendiri menuturkan bahwa semula ia sering ditegur oleh shahabat lainnya ketika selalu menuliskan hadits Rasulullah saw:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَىْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ r أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِى قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَىْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ r بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِى الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ r فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اُكْتُبْ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ

Dari Abdullah ibn ‘Amr ia berkata, aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw, agar aku bisa menghafalnya. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata, “Apakah engkau akan menulis segala sesuatu yang engkau dengar, sementara Rasulullah saw adalah seorang manusia biasa yang berbicara dalam keadaan marah dan senang?” Aku pun tidak menulis lagi, kemudian hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah saw. Beliau lalu berisyarat dengan meletakkan jarinya pada mulut, lalu bersabda: “Tulislah, demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (mulut) kecuali kebenaran.” (Sunan Abi Dawud kitab al-’ilm bab fi kitabatil-’ilm no. 3648).
Kumpulan tulisan hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr ini kemudian dikenal dengan as-shahifah as-shadiqah (lembaran yang benar). Di antara shahabat lainnya yang rajin menulis hadits dan mempunyai shahifah yang sama dengan ‘Abdullah ibn ‘Amr adalah ‘Ali ibn Abi Thalib. Pada suatu waktu ia pernah ditanya oleh Abu Juhaifah tentang apa saja yang pernah ditulisnya. ‘Ali pun menjawab, aturan tentang tawanan perang, cara penebusannya, dan hukum qishash:

عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابٌ قَالَ لَا إِلَّا كِتَابُ اللَّهِ أَوْ فَهْمٌ أُعْطِيَهُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قَالَ قُلْتُ فَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيرِ وَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

Dari Abu Juhaifah berkata, aku bertanya kepada ‘Ali bin Abu Thalib, “Apakah kalian memiliki kitab?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang Muslim, atau apa yang ada pada lembaran ini.” Aku bertanya, “Apa yang ada dalam lembaran ini?” Dia menjawab, “Tebusan, membebaskan tawanan, dan jangan sampai seorang Muslim dibunuh karena membunuh seorang kafir.” (Shahih al-Bukhari kitab al-’ilm bab kitabatil-’ilm no. 111).
Abu Hurairah yang menurut Baqi ibn Makhlad meriwayatkan 5.374 hadits, dilaporkan memiliki kitab hadits sendiri (riset terakhir menyatakan 1.236 hadits, yang lima ribu lebih hanya jumlah isnad-nya). Paling sedikit sembilan dari murid Abu Hurairah mencatat hadits dari dia.
Ibn ‘Umar yang menurut Baqi meriwayatkan 2.630 hadits juga terdapat laporan otentik bahwa ia memiliki koleksi hadits tertulis. Setidaknya delapan dari murid-muridnya mencatat hadits dari dia.
Anas ibn Malik yang melayani Nabi saw selama 10 tahun meriwayatkan 2.286 hadits. Paling tidak enam belas orang mendapat hadits dari dia dalam bentuk tertulis.
M.M. al-A’zhami dalam karyanya Studies in Early Hadith Literature menyajikan data yang akurat perihal adanya tulis-menulis hadits dari sejak awal Islam. Berdasarkan penelitiannya, terdapat 52 orang shahabat dan 151 tabi’in yang telah melakukan kegiatan penulisan hadits (M.M. al-A’zhami, Studies in Early Hadith Literature terj. Ali Mustafa Yaqub, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000, Cet. II (Cet. I 1994), hlm. 106-302). Selain itu Imam al-Khathib al-Baghdadi telah menulis satu karya ilmiah khusus, Taqyidul-’Ilm, yang mengulas kegiatan tulis menulis hadits dari sejak zaman Nabi saw sampai era penerbitan kitab hadits. Di samping tentunya para ulama generasi khalaf yang turut menguatkan penelitian ilmiah masa sebelumnya tentang keberadaan penulisan hadits dari sejak zaman Nabi saw.
Ketiga, mengakui otoritas ulama hadits. Hal ini penting untuk ditekankan karena Islam mengajarkan kita untuk bisa membedakan antara orang yang berilmu dan orang bodoh. Orang berilmu sudah semestinya diakui keilmuannya, termasuk dalam bidang ilmu hadits. Di setiap zaman, selalu terlahir ulama-ulama hadits yang kredibel keilmuannya dan patut dijadikan rujukan. Disebabkan landasan mereka sama, yakni “ilmu”, maka keberadaan mereka di setiap zamannya pun saling menguatkan antara satu dan lainnya.
Jika ini diabaikan maka tidak mustahil orang yang belajar hadits terjebak pada faham sesat seperti “hadits ahad harus ditolak dalam persoalan aqidah”. Contohnya, persoalan adzab kubur, turunnya Nabi ‘Isa di akhir zaman, al-Masih Dajjal, dan lain sebagainya. Dengan merujuk pada rambu-rambu ketiga ini, sudah jelas bahwa faham tersebut “sesat dan menyesatkan”. Sebab hadits ahad, selama itu kedudukannya shahih, adalah benar-benar merupakan sabda Nabi saw yang harus diimani dan diikuti, bukan malah dipertanyakan dan dipersoalkan. Para ulama dari sejak era Ibn Sirin, Ibnul-Mubarak, Hasan Bashri, Ahmad ibn Hanbal, as-Syafi’i, al-Bukhari, Muslim, an-Nawawi, Ibn Hajar al-‘Asqalani, hingga Mushthafa as-Siba’i, Nashiruddin al-Albani dan Yusuf al-Qaradlawi jelas tidak berfaham seperti itu. Mereka semua senada memahami bahwa hadits Nabi saw, meskipun ahad, asalkan statusnya shahih atau hasan, maka mesti diimani dan diamalkan. Baik itu menyangkut persoalan aqidah, ibadah ataupun akhlaq.
Berdasarkan otoritas ilmu hadits ini pula, maka dalam memahami sebuah hadits, kita sudah semestinya merujuk terlebih dahulu pada pendapat mereka. Dalam bidang kualitas hadits bisa dirujuk karya-karya para ulama takhrij hadits semisal Talkhishul-Habir karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, Silsilah al-Ahadits as-Shahihah dan ad-Dla’ifah-nya Syaikh Nashiruddin al-Albani, selain kutubus-sunnah seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, Ibn Majah dan lainnya. Demikian juga kitab-kitab takhrij hadits lainnya yang saat ini mudah ditemukan dalam program al-Maktabah as-Syamilah. Dalam bidang pemamaham kandungan hadits atau syarah hadits, sudah semestinya dirujuk kitab Fathul Bari, Ibn Hajar al-‘Asqalani; Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi; dan sejumlah kitab syarah hadits lainnya, yang umumnya bersandar pada dua kitab syarah hadits tersebut.
Ini sekali lagi penting untuk ditempuh agar kita tidak menjadi orang yang “sok tahu” tentang hadits, dan nyata-nyata menyimpang dari pengetahuan hadits yang sudah dikodifikasikan dari sejak lama oleh para ulama hadits dalam berbagai karya mereka.

[sumber;pemikiranislam.net]
◄ Newer Post Older Post ►